Don't Miss
Home / Pemikiran Islam / Ummat Islam dalam alam Demokrasi
Ummat Islam dalam alam Demokrasi

Ummat Islam dalam alam Demokrasi

Indonesia adalah negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Kita bersyukur kepada Allah yang telah menjadikan populasi itu, tetapi kita juga harus prihatin tentang keadaannya yang seperti buih di lautan atau seperti hidangan yang diperebutkan. Keadaan ini sesuai dengan ramalan Nabi saw. bahwa kedudukan umat Islam pada akhir zaman akan seperti itu. Umat Islam dalam keadaan yang sangat lemah, walaupun bilangannya sangat banyak. Sebab utamanya adalah karena kecenderungan umat Islam terhadap kemewahan dunia dan takut mati.

Khilafah Islamiyah di Turki dan kesultanan Islam di seluruh dunia telah diliputi kemewahan yang menyebabkan kelalaian akan tanggung jawabnya menjaga umat dan wilayahnya. Harem-harem menguasai istana. Ada yang memang ‘dipasang’ oleh musuh Islam untuk menjadi musuh dalam selimut. Politik adu domba dimainkan musuh-musuh Islam. Akibatnya, kekuatan umat Islam bercerai berai, kesultanan-kesultanan berdiri sendiri, peperangan terjadi antar kerajaan-kerajaan Islam. Bahkan, peperangan terjadi di dalam lingkungan keluarga Islam, antara adik dengan abang, antara anak dengan ayah, antara paman dengan keponakan, demi mengejar kemewahan pribadi.

Sejarah Turki dibangun dengan ketakwaan dan hancur dengan kemewahan. Muhmmad Al-Fatih adalah seorang Sultan yang di usia mudanya telah berhasil menaklukkan Istanbul yang saat itu menjadi ibukota Romawi Timur. Beliau terkenal dengan ketakwaannya dan memiliki ratusan ribu prajurit yang bertakwa. Setelah Turki menganut paham sekuler pasca runtuhnya Khalifah, muncul Erdogan yang hanya berpendidikan Ma’had Tahfidz wal Imamah. Dengan ketakwaan dan strategi jitu, ia mampu mengembalikan kepemimpinan Turki dalam percaturan dunia Islam.

Di belahan wilayah lain, Sultan Salahuddin Al-Ayubi berhasil mematahkan tentara Salib dan rencananya menguasai Masjidil Aqsa juga dengan ketakwaan. Beliau tetap hidup dengan amat sederhana meski berhasil menguasai dunia.

Di seluruh Nusantara telah berdiri kerajaan-kerajaan Islam.  Membentang dari Aceh hingga Halmahera. Kerajaan-kerajaan Islam tersebut telah menyebarluaskan dakwah Islam sehingga pemeluk Islam di Indonesia mencapai 90 %. Sistem pemerintahan raja adalah sistem yang paling lama berlaku sepanjang peradaban manusia. Di dalam sejarah tercatat tegaknya kerajaan Mesopotamia di kawasan Sungai Nil, kerajaan-kerajaan Hindu di India, dinasti kerajaan-kerajaan Budha di China, kerajaan Majapahit dan Sriwijaya di Nusantara, kerajaan Katholik Romawi di Eropa, hingga kerajaan Majusi di Persia. Demikian pula di dalam Al Quran juga terdapat kisah Mesir Purba yang diperintah oleh dinasti Fir’aun. Demikian juga di zaman Nabi Yusuf as. dan Nabi Sulaiman as.

Lahirnya falsafah Demokrasi adalah sebagai bentuk protes terhadap sistem pemerintahan kerajaan, terutama aliran Teokrasi yang menganggap bahwa raja memerintah atas nama Tuhan. Kekuasaan raja yang mutlak menyebabkan kebebasan rakyat menjadi hilang. Dalam falsafah Liberal, setiap anak dilahirkan bebas merdeka, tak ada siapapun yang bisa merampas kebebasannya, karena kebebasan adalah hak asasi manusia. Demikan pula hak politik untuk menentukan pemerintahan adalah atas pilihan rakyat yang dikenal dengan demokrasi; suara terbanyak dalam pemilihan dianggap mewakili kehendak rakyat.

Revolusi Perancis digerakkan oleh ideologi Liberal yang dikenal dengan Declaration of Independent atau Deklarasi Kebebasan atas prinsip Human Right (Hak Asasi Manusia). Tujuannya adalah memberikan kebebasan kepada rakyat untuk bebas berpendapat, bebas bersuara, dan bebas berhimpun. Dengan itu, rakyat bebas untuk bergerak dalam partai politik, memilih wakil rakyat, dan memilih pemimpin Negara. Ideologi Liberal ini ternyata berkembang pesat di seluruh Dunia setelah Perancis berdiri sebagai sebuah Negara Republik. Amerika sebagai negeri jajahan Eropa juga bergolak ingin memerdekakan diri dan menjadi Negara Republik. Menyusul kemudian pergolakan di benua Asia dan Afrika. Di Eropa, pengaruh revolusi Perancis sangat besar. Demokrasi diterima secara bulat, meski ada juga yang masih berbentuk Raja berparlemen seperti Inggris, Belanda, dan Belgia. Negara-negara Sosialis secara terselubung ternyata juga memproklamirkan negaranya sebagai Republik seperti Rusia, Yugoslavia, dan China.

Pada zaman penjajahan, pengaruh ideologi luar ini berkembang secara serentak di negeri-negeri berpenduduk Muslim, termasuk Indonesia. Ir. Soekarno menerima konsep Nasionalis-Sosialis untuk dasar perjuangannya. Darsono dan Alimin memilih Komunis. Umat Islam yang dipersatukan dalam MASYUMI menggunakan saluran Demokrasi ini untuk memperjuangkan hak umat Islam. Jika Soekarno jujur memperjuangkan demokrasi, maka tentu dia akan menghormati hak umat Islam untuk menerapkan syariat Islam bagi pemeluknya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, dia memberangus umat Islam dengan strategi politik NASAKOM dan MANIPOL USDEK.

Di zaman Orde Baru hak umat Islam juga tidak bisa diperjuangkan karena suasana rezim Soeharto yang begitu otoriter. Kemudian hadir zaman reformasi yang telah banyak perubahan. Golkar berkedudukan sejajar dengan Partai Politik lain. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) tidak lagi mendominasi pemerintah dan kursi DPR. Amandemen UUD 1945 dapat berjalan dengan lebih baik dan lebih menjamin demokrasi. Oleh karena itu Pemilihan Umum adalah kesempatan baik bagi umat Islam untuk memperjuangkan haknya. Hasil PEMILU 1999 menunjukkan umat Islam masih dominan dengan memiliki 40 % suara, sementara GOLKAR memiliki sekitar 20%, PDI 23%, dan yang lainnya 17 %. Pada PEMILU 2014 ada pergeseran sedikit, tetapi umat Islam masih dominan.

Umat Islam perlu lebih mengenal diri, memahami tugas dan peranannya di bumi, dan bekerjasama untuk mengangkat Islam di persada Tanah Air. Potensi itu ada pada umat Islam. Ketika Ahok muncul untuk mempertahankan kedudukannya sebagai Gubernur DKI Jakarta dengan segala program misterinya, di atas kertas dia pasti menang, tetapi berkat umat Islam yang mampu memahami potensi dirinya sebagai penduduk mayoritas di negeri tercinta ini. Maka Allah meruntuhkan segala kecongkakannya. Umat Islam perlu lebih cerdik dalam mengatur strategi dengan tetap memegang prinsip; prinsip srategi memenangi PEMILU dan prinsip memilih pemimpin yang bertakwa.

Demokrasi adalah sebuah falsafah politik yang bertujuan menyalurkan kehendak rakyat secara aman dan damai. Sistem ini jika dijalankan dengan bersih, pasti tujuannya akan tercapai. Jika dalam sebuah Negara demokrasi dianjurkan untuk menggunakan hak pilih, maka mengapa kesempatan celah ini tidak digunakan. Perjuangan Politik adalah alat untuk mencapai tujuan dan ia bersifat mubah, bahkan menurut kaedah Ushul Fikih, jatuh kepada  wajib jika akan menjamin perkara wajib itu dapat disempurnakan.

Demokrasi memang bukan dari Islam dan tidak sama dengan Syuro dalam Islam yang hanya dikendalikan oleh Ahlul Halli wal Aqdi. Syuro berlaku dalam sebuah Daulah Islam. Adapun demokrasi dapat digunakan untuk memperjuangkan hak umat Islam dalam Negara yang belum berdasar Islam. Selain pilihan umum, demokrasi juga memberi hak kepada rakyat untuk berhimpun dan menyuarakan perasaannya secara terbuka tanpa membuat huru-hara. Cara ini terjadi di zaman Rasulullah, yaitu setelah Sayyidina Umar Bin Khatab radhiallahu ‘anhu masuk Islam.

Beliau bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, Apakah kita berada di pihak yang benar baik hidup ataupun mati?”.

Ya,” Jawab Rasulullah.

Kalau demikian, mengapa kita bersembunyi? bolehkah saya bawa umatmu keliling kota Mekah?

Ya,” Kata Rasulullah. “Sekarang masanya kita bawa umat keluar.”

Maka umat Islam diminta berbaris dan dibagi menjadi dua pasukan; satu pasukan dipimpin oleh Saidina Hamzah ra.,  dan pasukan satu lagi di bawah pimpinan Sayyidina Umar ra. sendiri. Dengan langkah tegap mereka membuat perbarisan dengan gagah berani.

 

Peristiwa Kedua terjadi ketika Nabi Muhammad saw. dengan pengikutnya membebaskan kota Mekah. Abu Sufyan datang ke Madinah didampingi Al-Abbas, paman Rasulullah yang secara rahasia telah masuk Islam. Kedatangan pemimpin Quraisy itu bertujuan meminta kepada Rasulullah saw. untuk memperbarui perjanjian Hudaibiyah yang batal disebabkan kaum Quraisy telah mengkhianati perjanjian itu dengan membantu Bani Bakar untuk memerangi Bani Khuza’ah di pihak Islam. Rasulullah saw. dengan tegas menolak permintaan Abu Sufyan dan menyatakan perang. Misi Abu Sufyan gagal total.

Dalam kondisi seperti itu, Al-Abbas menjalankan peranannya sebagai diplomat. Beliau mengajak Abu Sufyan untuk tidak segera pulang ke Mekah dan menaiki bukit untuk memantau persiapan pasukan Islam menyerang Mekah. Rasulullah mengerti siasat Al-Abbas. Beliau kemudian menyuruh umatnya mengadakan pawai obor keliling Madinah dan diatur sedemikian rupa agar kekuatan umat Islam tampak sangat besar. Semasa perjanjian Hudaibiyah bilangannya hanya 1500 orang, tetapi saat itu totalnya menjadi 15000 orang. Setelah melihat kekuatan umat Islam, mereka berbincang tentang sikap dan tindakan Quraisy terhadap rencana pasukan Islam.

Abu Sufyan mengakui bahwa dirinya tidak sanggup mengadakan perlawanan disebabkan dalam keadaan lemah sekalipun umat Islam tidak dapat dimusnahkan apalagi kekuatan umat Islam sudah sangat besar. Al-Abbas menyarankan agar umat Islam masuk Mekah tanpa perlawanan. Abu Sufyan juga berpikir dengan sikap kebimbangan yang dikemukakan jika Nabi Muhammad menghabisi penduduk Mekah. Namun, Al-Abbas mencoba memberi jaminan tindakan demikian tidak akan terjadi bagi Muhammad, dia adalah seorang pemaaf, sedangkan tujuannya hanyalah untuk mengajak kita mengakui kerasulannya.  Abu Sufyan setuju untuk membiarkan Nabi Muhammad dengan pasukannya masuk Mekah tanpa perlawanan.

Setelah mengetahui sikap Abu Sufyan, maka Rasulullah saw. menyuruh Bilal Bin Rabah ra. untuk berteriak, “Al-Yauma yaumul marhamah, Al-yauma yuizzullah Quraisyan” (Hari ini hari berkasih sayang, hari ini hari dimuliakan Allah atas bangsa Quraisy). Dan ketika di perbatasan Mekah Rasulullah memerintahkan agar setiap ketua pasukan berteriak, “Man dakhala Daara Abu Sufyan fa huwa amin, man dakhala masjidan fa huwa amin, man aghlaqa babahu fa huwa amin” (Barangsiapa masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, barangsiapa masuk masjid dia juga aman, dan barangsiapa mengunci rumah masing-masing maka dia juga aman). Ucapan demikan adalah ucapan diplomasi yang bertujuan membujuk musuh menyerah dan kehormatannya tetap terjaga.

Berdasarkan fakta sejarah Rasulullah tersebut, maka kesimpulannya bahwa demonstrasi dan diplomasi diizinkan Allah untuk mencapai tujuan. Bahkan, jika diplomasi berhasil dan dapat menghindarkan pertumpahan darah, hal ini lebih sesuai dengan kehendak Islam, agar Islam diterima tanpa paksaan.

Pada zaman Orde Lama yang ditandai dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, demokrasi sebenarnya sudah terkubur. Demikan juga pada zaman Orde Baru, dengan dominasi ABRI dan GOLKAR peranan politik sudah hilang. Setelah reformasi fajar baru menyingsing, strategi di medan politik dapat dimainkan, seperti membuat poros tengah ketika PDIP dengan GOLKAR berseberangan. Demikian juga koalisi Kerakyatan dapat mengalahkan koalisi kebangsaan ketika PDIP dan GOLKAR menggabung kekuatannya. Di situ kita dapat melihat potensi umat Islam sebagai pemeran faktor penentu. Prinsip persatuan umat Islam dan saling membantu dapat diwujudkan.

Sebagai falsafah hidup buatan manusia, demokrasi tidak lengkap-sempurna. Demokrasi banyak memiliki kelemahan, sebagaimana kita saksikan dalam perkembangannya. Bentuk ekonomi kapitalis memicu lahirnya idologi Nasionalis, Sosialis, dan Komunis.

Ideologi Liberal dengan dasar demokrasi yang dianut Eropa telah melahirkan Kapitaisme. Kapitalisme juga melahirkan imperialisme. Ekonomi Liberal memberi kebebasan bersaing bagi setiap rakyat (pengusaha swasta), bisa memiliki modal dan pengembangan usaha tanpa batas, sementara pemerintah hanya memungut pajak. Dampak dari model seperti itu, ada yang semakin kaya menumpuk harta dan ada yang semakin miskin menjadi kelas buruh. Si kaya akan  menguasai kapital untuk membuka dan memperluas usaha serta mengeksploitasi tenaga buruh. Semasa kapitalis berkembang di Eropa berdirilah perusahaan-perusahaan besar yang dikuasai konglomerat yang kemudian mengembangkan usahanya keluar Eropa dengan mendirikan perusahaan-perusahaan Multi Nasional. Akibat ekspansi keluar Eropa inilah disebut Kolonialisme yang bersifat Imperialisme.

Sistem pajak yang diterapkan oleh pemerintah terhadap rakyat, sebagian besar diperoleh dari kaum Kapitalis. Konsekuensinya, pemerintah juga harus bertanggung jawab melindungi kaum kapitalis di samping mengurus kesejahteraan masyarakat luas. Akhirnya kekuatan politik dan militer juga digunakan dalam ekspansi penjajahan keluar Eropa. Dengan begitu lahirlah kesenjangan sosial antara kaum miskin dan kaya yang kemudian menyebabkan lahirnya ideologi Nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari sistem penjajahan, dan ideology Sosialis/Komunis yang memperjuangkan kaum miskin (ploletar) dari ekploitasi Kapitalis Borjuis.

Demokrasi sudah menjadi alat strategi hampir di seluruh bagian dunia. Hanya sedikit negara yang masih mengaku dengan jujur menggunakan bentuk pemerintahan Monarki Absolut. Begitu besarnya pengaruh demokrasi, membuat negara yang berbentuk Diktator Ploletariat mengaku sebagai Negara Sosialis Demokratik. Sebenarnya negara Barat juga tidak jujur dengan dasar demokrasi, terutama terhadap gerakan Islam, seperti kemenangan Hamas di Palestina tetap dituduh teroris. Begitu juga kemenangan Ikhwanul Muslimin di Mesir, dikudeta atas desakan Barat.

Kini imej umat Islam dijadikan lebih buruk dengan isu terorisme, anti kestabilan, anti NKRI dan anti Pancasila, dengan adanya tindakan segelitir kelompok yang protes terhadap ketidakadilan negara-negara yang mengaku demokrasi terhadap umat Islam. Memang pihak anti Islam telah menggunakan isu teroris  ini untuk memojokkan umat Islam untuk selanjutnya mencegah kebangkitan Islam.

Umat Islam wajib memikirkan strategi perjuangan dalam keadaan tersudut seperti sekarang, sementara secara umum kebebasan yang dilindungi demokrasi telah berlaku di Indonesia. Momentum 212 yang dilandasi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, dipelopori Habib Riziq dan didukung Bakhtiar Nasir, Aa Gym, serta seluruh Umat Islam, menunjukkan umat Islam mampu membuat gerakan yang damai tanpa membuat huru-hara. Strategi pertahanan diri dan membebaskan penyudutan telah dikumandangkan, bahwa umat Islam membela NKRI dan Pancasila. Dengan hujjah yang kuat, sebenarnya lahirnya NKRI dan Pancasila adalah peranan ulama dan pejuang Islam. Lihat saja Preambule UUD ‘45 yang menyatakan bahwa kemerdekaan  Indonesa adalah berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Begitu juga jika diteliti kandungan Pancasila yang termaktub dalam  Preambule itu siapa yang sebenarnya pengamal Pancasila?, sebaliknya para pemimpin sekuler itulah yang memperalat Pancasila.

Habib Riziq telah diresmikan jadi Imam Besar umat Islam. Keberanian dan kemampuannya sebagai Ulama dan orator sesuai untuk dijadikan panutan umat. Demikian juga Bakhtiar Nasir yang dengan gigih membina kekuatan internal umat Islam dengan tadabbur Al-Qur’an perlu dijadikan model dan manggala tarbiyah umat dan disebarluaskan dalam segala bentuk media. Wallahu A’lam

 

oleh: Nazwar Samsyu

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

About uce

maju terus pantang mundur! aku mah gitu orangnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top