Don't Miss
Home / Pemikiran Islam / Peran Serta Pesantren Dalam pengembangan Ilmu pengetahuan
Peran Serta Pesantren Dalam pengembangan Ilmu pengetahuan

Peran Serta Pesantren Dalam pengembangan Ilmu pengetahuan

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

oleh : Adam Riyanto. Lc, MBA.

Dalam kesempatan ini, marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya yang diberikan kepada kita semua.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah berjasa besar bagi kemanusiaan, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan peradaban yang bermoral dan berkeadilan, sehingga kita menjadi ummat yang senantiasa, mengembangkan, dan mengamalkan ilmu pengetahuan.

Ditegaskan bahwa masa klasik masa yang menbentang dari abad ke-1 H / ke-7 sampai jatuhnya Baghdad pada abad ke-7 H / ke-13 M adalah masa dimana dua peristiwa penting terjadi. Pertama, diturunkannya wahyu secara sempurna ke dunia lewat Nabi Muhammad SAW, kedua, dilembagakannya wahyu tersebut dalam berbagai madzhab yang dianut masyarakat islam sekarang. Produk kedua peristiwa tersebut yaitu Al Qur’an, Hadist Nabi, Sirah (sejarah hidup Nabi), Maghazi (sejarah peperangan Nabi) pada peristiwa pertama dan buku-buku yang ditulis imam madzhab dan pengikut meraka pada peristiwa kedua beserta konteks yang mengitarinya tersimpan khazanah dalam buku-buku yang sangat kaya. Buku-buku ini mutlak diperlukan dalam keberagamaan masyarakat Muslim sekarang. Baik kelompok yang ingin mengikuti warisan itu secara utuh (mengikuti Al Qur’an dan Hadist Nabi serta ajaran-ajaran para pendiri madzhab sepersis mungkin) ataupun kelompok yang ingin mengikuti warisan tersebut secara terbuka (mempelajari lewat konteks yang melahirkannya dan berusaha menarik semangat yang ada dibalik ekspresi verbal warisan tersebut dan kemudian menerapkannya kembali dalam konteks mereka yang berbeda dengan ekspresi verbal yang bisa jadi berbeda) tidak mungkin bisa melepaskan diri dari khazanah klasik tersebut.

Dengan kata lain, hanya lewat penguasaan tradisi klasik tersebutlah bangunan islam mungkin didirikan. Reinterpretasi, taqlid, gerakan salafi, kontekstualisasi, atau apapun bentuk gerakan yang muncul di masyarakat islam, hanya mungkin berdiri kokoh kalau dia berakar kuat dalam tradisi islam klasik. Pilihlah arah dan bentuk kajian islam, baik di pondok pesantren maupun diperguruan tinggi islam atau lembaga-lembaga kajian islam lainnya, harus berpijak pada tradisi islam klasik, Al Qur’an, Hadist, dan karya-karya imam madzhab harus menjadi pijakan.

Selanjutnya, warisan islam klasik tersebut harus dibaca dengan kreatif. Dan oleh karenanya, pemahaman tentang manusia sebagai penerima dan pelaksana agama beserta produknya (budaya, ilmu, teknologi) mutlak diperlukan. Tuhan dan manusia, langit dan bumi, seperti dua sisi mata uang dalam agama.

Merumuskan posisi keilmuan Islamic Studies (ilmu-ilmu agama) dalam konteks perubahan sosial yang sedemikian pesatnya memang bukan pekerjaan yang mudah. Upaya ini terus-menerus dilakukan, baik dari pemikir klasik (classical scholar) sampai kepada pemikir kontemporer (modern thinkers). Dalam konteks kekinian, positioning tersebut menjadi sangat penting, agar Islamic Studies tidak terjerembab dalam sakralisasi pemikiran ulama masa lampau. Kecenderungan untuk menggali warisan islam klasik in the old fashion inilah yang terkadang berbenturan dengan para pemikir Muslim kontemporer.

Kalaulah dulu Barat belajar berbagai ilmu pengetahuan kepada kita, lalu dengan kreativitas tinggi, mereka mendalami dan mengembangkannya, maka kini kita juga harus belajar dari mereka dan terus berusaha untuk mengembangkannya, bahkan mengungguli mereka. Disamping metode ilmiah Barat yang cenderung “sekuler” itu harus kita “islamkan”, kita juga harus langsung kembali pada sumber pengetahuan tersebut; Al Qur’an. Dengan demikian, kita akan mampu memberikan kontribusi nyata bagi peradaban umat manusia di masa mendatang.

Dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu umum juga harus mulai kita hilangkan karena hal itu sangat bertentangan dengan pandangan islam. Tentang soal ini, Al Quran dengan secara jelas menceritakan, bahwa Allah SWT telah mengajarkan Nabi Adam seluruh ilmu pengetahuan, tanpa kecuali. Hal ini menunjukkan, bahwa islam tidak mengenal istilah ilmu agama dan ilmu umum.

وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda)semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para Malaikat, seraya berfirman “sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini jika kalian memang benar” (QS Al Baqarah 31)  

Sejarah mencatat, bahwa istilah ilmu agama dan ilmu umum disebarkan pertama kali oleh pihak penjajah kolonial melalui para orientalis. Karena mereka mengerti betul bahwa umat islam sangat anti dengan segala hal yang berkaitan dengan Barat, maka mereka menyebarkan pemikiran bahwa sains dan teknologi adalah budaya dan berasal dari Barat. Paham renaisansedi Eropa yang pada masa itu berhasil menstimulasi ilmu pengetahuan untuk berkembang dengan pesat, telah berhasil dengan mudah membuat kaum pribumi mempercayai bahwa sains dan teknologi adalah budaya Barat. Sebagai akibatnya, pada saat itu ranah sains dan teknologi hampir tidak pernah disentuh umat islam. Secara psikologis, hal ini akhirnya juga telah menjadikan umat islam minder karena mereka hanya mengamalkan sebagian ayat-ayat Al Quran dan melupakan ayat-ayat tentang ilmu pengetahuan umum yang semestinya harus imbang.

Pondok-pondok pesantren yang memiliki komitmen kuat dalam mengembangkan dakwah, keberadaan perannya perlu lebih diaktifkan dalam mengintegrasikan ilmu-ilmu di dua wilayah ini. Sehingga umat islam tidak hanya berwawasan ayat-ayat Qur’aniyah, tapi mereka juga mampu menerjemahkan ayat-ayat kauniyah ke dalam berbagai konsep sosial kehidupan, seperti kesejahteraan, keadilan, kemakmuran, kedamaian, kesatuan, kerukunan, sikap toleransi, kesetaraan gender, dan lain sebagainya.

Jika pondok pesanteren berhasil memelopori  perwujudan integrasi ilmu-ilmu secara nyata, niscaya kurikulum pendidikan kita akan semakin cepat integral, terpadu, dan berorientasi kepada pengembangan imtaq (keimanan dan ketaqwaan) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) secara seimbang dan serasi sebagaimana yang telah pemerintah konsepkan. Dan umat islam, khususnya para akademisi muslim dan komunitas pesantren, dapat menunjukan secara jelas kontribusi  mereka yang besar dalam mencerdaskan bangsa.

Allah SWT juga menekankan pentingnya pendalaman sains dan teknologi serta mendorong umat manusia untuk selalu menggunakan akal dan pikirannya. Dalam surat Ali ‘Imran ayat 190 Allah telah berfirman;

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّأُولِى الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam ( proses)penciptaan langit dan bumi, dan bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Dalam suraah Ar Rahman ayat 33 Allah SWT juga bahkan telah mengisyaratkan kepada kita, bahwa kita dapat dan diperkenkan untuk mengeksplorasi jagat alam ini jika kita mampudan menguasai ilmu pengetahuan.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

Hai jama’ah jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah, kalian tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan).

Bukankah pada puncak zaman kejayaan islam di Baghdad para penemu ilmu-ilmu matematika, kimia, kedokteran, ekonomi, astronomi dan bidang ilmu lainnya adalah Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Kaldun, Al Farobi, Al Jabar, dan ulama-ulama lainnya? Mereka telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan karena jauh sebelum mereka berkonsentrasi dan memperdalam ilmu umum, pada usia yang masih sangat dini mereka sudah menghafal Al Quran dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan melimpahkan hidayah-Nya kepada kita dalam mempersiapkan umat yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, demokratis, kreatif, bertanggung  jawab, dan mandiri, dengan merujuk kepada nilai-nilai Al Quran. Semoga Allah SWT menggolongkan kita ke dalam orang-orang yang memperoleh kemenangan. Aamiinn

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ponpes Nurussalam

Editor : Riska Sukmawati

About uce

maju terus pantang mundur! aku mah gitu orangnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top