Don't Miss
Home / Kajian Islam / Permulaan Perang dalam Sejarah Islam
Permulaan Perang dalam Sejarah Islam

Permulaan Perang dalam Sejarah Islam

perang_dunia_islam waktu turun izin buat berperang, maka Nabi SAW mulai mempelajari semua strategi perang, berasal Madinah ke Mekah, dan berasal Makah ke perniagaannya di Syam. Dan mulai mengirim pasukan perang, di tahun pertama mengutus pasukan yg dipimpin sang Hamzah bin Abdul Mutholib Singa Allah serta Rasul-Nya pada kafilah dagang yg didalamnya ada Abu Jahal, namun tidak terjadi perang diantara keduanya. Begitu pula mengirim pasukan yg dipimpin oleh Ubaidah bin Harits di akhir bulan Rajab ke daerah yg bernama Nahlah. Pada pasukan perang yang didalamnya ada Ubaidillah bin Jahsy , para teman berbeda pendapat, apakah akan memerangi mereka atau tidak, karena ini adalah akhir bulan Rajab dan bulan Rajab ialah bulan Haram. Sebagian berpendapat mungkin sudah berakhir bulan Rajab dan masuk bulan selanjutnya, dan yg lainnya beropini, mungkin bulan digenapkan menjadi 30 hari. Bila kita meninggalkan buat berperang hari ini, maka mereka akan lari berasal kita, tapi Jika kita memerangi mereka maka kita akan berperang pada bulan Haram. Maka ditetapkanlah keputusan bahwa mereka akan berperang, dan terjadilah perang. Terbunuhlah seseorang musyrikin serta menawan dua orang, orang- orang musyrikin mendengar hal ini, serta mereka mengatakan bahwa Muhammad tidak memperhatikan bulan Haram, beliau tak mensucikannya serta tidak pula mengharamkan perang didalamnya.

“ mereka bertanya kepadamu wacana berperang di bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu artinya dosa besar ” – Al- Baqoroh: 217-
benar kami bersepakat dengan kalian bahwa berperang di bulan haram ialah dilarang, tapi apakah yang kalian lakukan ialah halal? Dari menghalangi manusia dari jalan Allah, mengusir manusia berasal tempat tinggal Allah, menghalangi mereka dari thowaf pada ka’bah. Jika berperang ialah haram, maka bagaimana menggunakan kafir kepada Allah, mengharuskan orang lain buat mengingkari Allah, bukankah hal ini lebih besar dari di berperang di bulan Haram?
“ fitnah lebih besar berasal penghilangan nyawa” , yaitu fitnah manusia terhadap agamanya lebih akbar daripada membunuh mereka. Kemudian Nabi membebaskan tawanan serta memberikan diyat kepada orang yg terbunuh, serta mulailah diutus pasukan- pasukan perang, maka Allah menurunkan ayat:
“ dan perangilah pada jalan Allah orang-orang yg memerangi engkau , (tetapi) janganlah engkau melampaui batas, sebab Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” – Al- Baqoroh: 190 –
Maka mulailah turun ayat- ayat yg bekerjasama dengan perang, adapun kaum munafik yg berpaling dari barisan jihad, yg menampakkan keimanan pada awalnya tidak menduga bahwa ayat memerintahkan kepada hal yg berhubungan menggunakan perang, pertumpahan darah, serta pedang. Mereka mengira bahwa islam hanya puasa, serta sholat, tetapi saat turun ayat perang
“Maka bila diturunkan suatu surat yg kentara Maksudnya serta disebutkan pada dalamnya (perintah) perang, engkau Lihat orang-orang yang terdapat penyakit pada dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati , serta kecelakaanlah bagi mereka” – Muhammad: 20-
Mereka menduga bahwa kematian turun pada mereka, serta terdengarlah kabar kepada orang- orang musyrik serta mereka memahami bahwa terdapat kekuatan baru di semenanjung Arab.
Kiblat Nabi SAW serta para sahabatnya pada ketika itu merupakan Baitul Maqdis, serta Nabi pun melihat ke langit, berharap agar kiblat pindah ke rumah yang dibangun sang bapaknya – Ibrahim – semenjak ribuan tahun silam. Tapi Allah belum mengizinkannya, sampai tiba bulan Sya’ban di tahun ke- dua Hijriah, Allah menurunkan ayat:
“ benar-benar Kami (acapkali) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka benar-benar Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya. Serta Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yg diberi Al kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah sahih berasal Tuhannya; serta Allah sekali-kali tidak lengah berasal apa yang mereka kerjakan.”- Al- Baqoroh: 144-
Berbahagialah Nabi SAW dengan perpindahan arah kiblat ini, asal Baitul Maqdis ke Ka’bah yg dimuliakan Allah, hingga para sahabat sedang sholat, datang- tiba datanglah seorang yang mengabarkan bahwa arah kiblat sudah berpindah ke Ka’bah, maka tanpa ragu mereka eksklusif mengubah arah sholat mereka.
Disini mulailah orang- orang munafik dan yahudi ragu akan urusan orang mukmin, mereka berkata: “ Bagaimana ini, mereka sholat beberapa tahun menghadap Baitul Maqdis, tetapi datang- tiba mereka berpaling ke Ka’bah? Ini merupakan sebuah gurauan serta permainan pada urusan kepercayaan . Jika saat itu mereka dalam kebenaran, maka kini mereka pada kesalahan, tetapi Jika waktu ini mereka dalam kebenaran, maka dahulu mereka dalam kesalahan. Mereka mulai berbagi keraguan ini kepada insan, serta Allah memberi mereka julukan sebagai orang ndeso :
“ orang-orang yang kurang akalnya diantara insan akan mengatakan: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka sudah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk pada siapa yg dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. – Al – Baqoroh: 142-
Jawaban untuk mereka adalah bahwa kiblat pertama kepunyaan Allah serta kiblat kedua pun milik Allah. Perpindahan ini adalah ujian bagi orang- orang mukmin,hingga dketahuilah siapakah diantara mereka yg mengikuti Rosul SAW, dan siapakah yg berpaling.
“ dan Kami tidak menetapkan kiblat yg menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan supaya Kami mengetahui (agar nyata) siapa yg mengikuti Rasul dan siapa yg membelot. Serta sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yg sudah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang pada insan.”- Al- Baqoroh: 143-
Sebagian teman tiba kepada Rosulullah dan berkata bahwa sebagian saudara kami sholat menghadap Baitul Maqdis serta mereka tewas sebelum sholat mengahadap Ka’bah, bagaimanakah aturan sholatnya? Allah menamakannya menggunakan Iman, tidaklah terdapat disparitas antara sholat mereka menghadap Baitul Maqdis sebelum perubahan ataupun menghadap kiblat.
Penetapan hukum pada bulan Sya’ban tahun ke 2 hijriah artinya perpindahan kiblat berasal Baitul Maqdis ke Ka’bah.
Nabi SAW mengetahui bahwa terdapat kafilah dagang yang keluar daei Makah menuju ke Syam, dan dia mengetahui bahwa kafilah dagang ini akan balik dengan membawa lebih asal 1000 unta lengkap dengan barang bawaannya, yg mana didalamnya terdapat Abu syufyan bin Harb. Nabi mengabarkan kepada para sahabatnya akan hal ini, dan menyuruh mereka menghadang kafilah dagang, sebab didalamnya ada harta kaum Quroisy, harta mereka yang yang diambil sang kaum Quroisy. Maka sahabat pun keluar buat menghadang dengan membawa beberapa senjata, mereka tidak mengira bahwa akan terjadi perang, karena ini hanyalah kafilah dagang, jumlah mereka hanya 310 sekian orang saja sebagian akbar mereka ialah penunggang kuda, Zubair bin Awwam serta Miqdad bin Aswad, dan sebagian mereka permanen tinggal di Madinah. Nabi Saw menyampaikan bendera kepada Mush’ab bin Umair, serta pasukan dibagi sebagai dua, Muhajirin dan Anshor. Adapun Muhajirin didalamnya ada Ali bin Abi Tholib ra, dan Anshor terdapat Sa’ad bin Mu’adz ra. Abu Syufyan mengetahui akan hal ini, maka ia pun langsung mengutus utusan ke Makah, mengabarkan bahwa mal akan diambil paksa, Nabi serta para sahabat tidaklah mengira akan terjadi hal ini. Datanglah seorang utusan pada mereka bernama Bambam Al- Ghifari mengabarkan pada kaum Quroisy bahwa harta mereka yang terdapat di Abu Syufyan akan disita oleh Muhammad. Maka orang- orang Makah pun langsung mempersiapkan senjata mereka buat berperang. Mereka mengatakan: “ akankah Muhammad serta para sahabatnya akan menjadi Ka’ir bin Al- Hadromy? Apakah dengan simpel beliau dan para sahabatnya akan mengambil harta kami? Sekali- kali tidak! Maka orang Quroisy mempersiapkan pasukan besar yang terdiri berasal 1300 orang, semua pemuka Quroisy keluar buat berperang kecuali Abu Lahab sebab sebuah udzur serta beliau pun mengutus seorang buat menggantikannya. Umayah bin Kholaf pun ingin tidak ikut perang, akan tetapi datanglah sahabatnya Uqbah bin Abi Mu’ith dan berkata kepadanya buat menggunakan sandang perempuan serta berhias. Umayah menjawab: “ mengapa kamu berkata ini?” Uqbah pun berkata:” tidak terdapat yang tidak ikut berperang kecuali wanita”. Maka Umayah pun menyiapkan dirinya buat berperang.
Datanglah iblis dalam bentuk Suroqoh bin Malik serta mengatakan: wahai insan pada hari ini kalian akan menang, aku datang dari Kinanah tetangga kalian”, maka mulailah beliau menyemangati insan untuk berperang
“ serta saat syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan berkata: “tidak terdapat seorang manusiapun yg bisa menang terhadapmu di hari ini, serta Sesungguhnya saya ini artinya pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu sudah bisa saling Lihat melihat (berhadapan), syaitan itu pulang ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada engkau , Sesungguhnya saya bisa melihat apa yg kamu sekalian tidak dapat melihat; Sesungguhnya saya takut pada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.”- Al- Anfal: 48-
Maka orang- orang pun mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk berperang, Abu Syufyan mengutus seseorang buat menilik jalan, dan diketahui bahwa jalan utama telah dihadang sang Muhammad SAW dan para sahabatnya. Maka Abu Syufyan pun menentukan jalan lain, buat menyelamatkan harta benda; sebab 1000 unta hanya dijaga sang 40 orang. Dituslah seseorang utusan ke Makah dan mengabarkan bahwa pasukan Muhammad tak menemukan mereka. Padahal orang Quroisy telah mempersiapkan 1300 pasukan dengan persenjataan yang lengkap, maka mereka memutuskan buat pulang, iblis tidak tinggal membisu, dia menyemangati orang- orang supaya kembali berperang, sebab ini adalah sebuah kesempatan emas mereka bisa mengalahkan Muhammad. Berdirilah Abu Jahal serta berkhutbah bahwa mereka tidak akan kembali, mereka akan pergi ke Badr, bermalam disana selama tiga malam, berpesta dengan menyembelih unta, serta meminum khamr, serta makan- makan.
“ serta janganlah kamu menjadi mirip orang-orang yang keluar asal kampungnya dengan rasa jemawa serta dengan maksud riya’ kepada manusia dan menghalangi (orang) dari jalan Allah. Serta (ilmu) Allah meliputi apa yg mereka kerjakan.” – Al- Anfal: 47-
Adapun Akhlis bin Syuroih pemuka kaum Bani Zuhroh mundur dari peperangan dan mundur bersamanya pula 300 orang, maka tersisalah 1000 orang pergi kearah Badr.
Maka pasukan kaum muslimin pun berkiprah menuju Badr, padahal mereka hanya ingin mengahadang kafilah dagang Abu Syufyan, tapi mereka wajib berhadapan dengan pasukan Abu Jahal, dan mereka pun tidak terdapat persiapan sama sekali buat berperang. Nabi SAW pada kebingungan, Jika pulang ke Madinah mereka akan menyerang mereka, adapun Jika mengahadapi, mereka belum terdapat persiapan sama sekali.
“ sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pulang dan rumahmu dengan kebenaran, Padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yg beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu ihwal kebenaran sehabis konkret (bahwa mereka sempurna menang), seolah-olah mereka dihalau pada kematian, sedang mereka melihat (karena-karena kematian itu).” – Al- Anfal: lima-6-
Berdirilah Abu Bakar dan berkata menggunakan perkataan yang menenangkan, berdiri juga Umar bin Khotob serta mengatakan dengan perkataan yang menenangkan, berdiri jua Miqdad bin Amr serta berkata: “ Wahai Nabi kami tidak akan mengatakan apa yang dikatakan pengikut Musa pada Musa Alaihi Salam- pergilah kamu serta tuhanmu buat berperang, kami duduk- duduk saja disini-, akan tetapi kami akan mengatakan pergilah engkau dan tuhanmu buat berperang, kami akan berperang denganmu”. Senanglah Nabi SAW menggunakan perkataan ini, akan tetapi Nabi menginginkan pendapat kamu Anshor, sebab yang berbicara tersebut semuanya berasal Muhajirin, kaum Anshor yg berbaiat pada Nabi SAW buat berperang beserta Nabi di Madinah, dan tidak berbaiat buat berperang diluar Madinah.
Maka berdirilah Sa’ad bin Mu’adz serta mengatakan: “ Kami beriman pada kamu ya Rosulullah, kami berbaiat pada engkau buat beriman, untuk berperang, maka wajib atas kami buat mendengarkan serta taat, demi Allah wahai Rosulullah, andai didepan kami ada samudera , serta engkau menyuruh kami menyebranginya, maka tidaklah seorangpun asal kami lari darinya”. Sa’ad bin Mu’adz tidak hanya berbicara tentang dirinya sendiri, tapi ia jua berbicara tentang kaum Anshor secara holistik. Nabi pun merasa suka dan dia berkata: “ berjalanlah kalian, serta berilah keterangan gembira; sebab Allah menjanjikan kepadaku galat satu asal dua gerombolan ,
“ dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa keliru satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yg tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, serta Allah menghendaki untuk membenarkan yg sahih menggunakan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir supaya Allah menetapkan yang hak (Islam) serta membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.”,- Al- Anfal : 7-

Sejarah_Permulaan_Perang_dunia_islam Hingga Nabi Salallahu ‘Alayhi Wasallam beserta pasukannya berlangsung menuju Badr, mereka pun berhenti didekat Badr, serta Nabi pun mengatur pasukan, kemudian berangkat untuk mengecek keadaan dengan sahabatnya Abu Bakar ra. Nabi SAW menonton seorang yang telah tua dari suku badui serta bertanya: “ Wahai laki- laki, beri tahukan terhadap kami mengenai Quroisy serta pasukan Quroisy, mengenai Muhammad serta para sahabatnya”. Laki- laki ini menjawab:” siapakah kalian?”, “ kami tak bakal menjawab sebelum kalian menjawab pertanyaan kami”. Nabi menanyakan mengenai diri sendiri serta pasukannya untuk mengelabui sebab dalam perang boleh meperbuat tipu daya, yangmana laki- laki ini merupakan orang yang sangat tahu mengenai perjalanan, safar, serta jalan- jalan, ia mengatakan: “ Aku mengadukan terhadap kalian bahwa kaum Quroisy keluar pada kali ini serta ini, apabila orang yang yang mengadukan kepadaku merupakan orang yang jujur, maka mereka kini ada di tempat ini serta ini, adapun muhamad serta para sahabatnya keluar pada kali ini serta ini, apabila orang yang yang mengadukan kepadaku merupakan orang yang jujur, maka mereka kini ada di tempat ini serta ini”. Laki- laki ini pun bertanya: “ siapakah kalian?”, Nabi SAW menjawab : “ kami dari air”, kemudian Nabi meninggalkannya. Laki- laki ini menerka dari air apakah mereka? Apakah mata air Iraq?, sedangkan maksud Nabi SAW merupakan air yang diciptakannya manusia darinya; sebab setiap manusia tercipta dari air.

Nabi SAW pun kembali ke pasukannya, ketika tiba waktu sore, Nabi SAW mengutus 3 orang untuk menemukan tempat yang tepat, Ali bin Abi Tholib, Sa’ad bin Abi Waqosh, Zubair bin Awwam. Mereka pun hingga di sumur di Badr, mereka menonton 2 anak kecil sedang minum dari air sumur serta mengambil air, mereka pun bertanya: siapa kalian? Serta untuk siapa kalian mengambil air?”, kedua anak kecil ini menjawab: “ kami mengambilkan minum untuk pasukan Quroisy”. Maka mereka mengangkat kedua anak kecil ini terhadap Rosulullah serta didapati Rosulullah sedang sholat, mereka pun kembali mengintrogasi kedua anak kecil ini, setiap ditanya serta menjawab kami mengambil air untuk Quroisy, maka dipukullah kedua anak kecil ini. Yang menandakan bahwa mereka tidaklah mengharapkan jawaban ini, mereka mengharapkan jawaban bahwa kami mengambilkan air untuk Abu Sufyan, mereka tetap berharap bakal berjumpa dengan pasukan Abu Sufyan. Hingga kedua anak ini menjawab bahwa kami memberi minum Abu Sufyan, maka ditinggalkanlah mereka. Ketika Nabi SAW berakhir sholat, beliau mengatakan:” Ada apa dengan kalian, saat kedua anak kecil ini menjawab jujur, kalian memukulinya, bakal namun saat berbi=ohong kalian membiarkannya”. Nabi SAW pun bertanya terhadap kedua anak kecil ini:” dimanakah mereka?”,
“mereka ada dibalik lembah ini pada tempat yang jauh”,
“ ada berapa mereka?”,
“ tak sedikit”,
“ berapa jumlah mereka?”,
“ kami tak tahu”,
“ berapa tak sedikit mereka menyembelih fauna ternak?”
“ pada sebuahhari mereka menyembelih 9 unta, serta kali ini mereka menyembelih 10”,
Nabi SAW mengatakan terhadap sahabatnya bahwa jumlah mereka kurang lebih 900 – 1000 orang, lalu Nabi bertanya terhadap kedua anak kecil ini:” siapakah pemuka kaum diantara mereka?”,
“ Utbah serta Syaibah bin Robiah, Umayah bin Kholaf, Abul Bahtary, Hakim bin Hizam, fulan serta fulan”,
Maka Nabi SAW mengatakan :” wahai sahabatku ketahuilah bahwa kaum Quroisy mengeluarkan jantung hati mereka terhadap kalian”.
Sampailah Nabi SAW serta sahabatnya di Badr, mengatakanlah Khobab bin Mundzir: “ Wahai Rosulullah, inilah tempat yang telah ditentukan oleh Allah, kenapa kami tak maju alias mundur sekalian? Ataukah ini hanyalah tipu daya? ”,
“ ini hanyalah tipu daya semata”,
Maka Khobab pun mengeluarkan pendapat bahwa mereka wajib berada didekat sumur serta menguasainya, jadi kami dapat meminum darinya serta mereka tak dapat minum. Tersenyumlah Nabi serta mengatakan:” sebaik- baik pendapat merupakan pendapatmu”, serta beliau pun mengambil pendapat ini.
Datanglah Sa’ad bin Mu’adz serta mengatakan:” kami bakal buatkan tenda khusus supaya engkau dapat beristirahat didalamnya, tempat untuk mengatur taktik perang”, maka Nabi menyetujuinya, mereka bermusyawarah didalamnya. Datanglah seorang pemuda dari Anshor yang mengemukaan pendapat briliantnya; yang mana ia merupakan pemimpin perang serta pemimpin umat ini. Seusai ditetapkan posisi masing- masing pasukan serta dibagi tugas bagi masing- masing pasukan,
Adapun ditempat lain, kaum Quroisy mempersiapkan pasukan, yangmana posisi mereka sangat dekat dengan pasukan kaum muslimin, mereka berusaha ingin mengambil air dari sumur, bakal namun tak dapat, setiap dari mereka mendekat untuk mengambil air dibunuh, kecuali Hakim bin Hizam, sebab Allah mentaqdirkan bahwa nanti ia bakal amsuk islam. Pasukan Makah melalui malam dalam keadaan ketakutan padahal jumlah mereka yang tak sedikit serta telah mempersiapkan diri untuk menghadapi perang. Diutuslah salah satu dari mereka Umair untuk menonton keadaan pasukan muslimin, dirinya mengatakan bahwa jumlah kaum muslimin kurang lebih 300 orang serta menonton bahwa mereka merupakan pasukan yang tak takut mati, mereka terus diliputi oleh rasa takut.
Hakim bin Hizam ingin mengundurkan diri dari peperangan, maka ia mendatangi Utbah serta meminta mengadukan terhadap pasukan bahwa mereka bakal mundur. Ketika Abu Jahal mendengar faktor ini, ia marah serta memutuskan bakal tetap memerangi Muhammad sebab rasa dengki dalam dirinya, maka ia mendatangi Amir, yang mana saudaranya baru saja terbunuh, serta mengatakan:” ini merupakan peluang bagimu untuk membalaskan dendam atas kematian saudaramu”. Maka ia pun bersemangat untuk membalaskan dendam atas kematian saudaranya serta menyemangati orang- orang untuk berperang.
Pada malam ke- 17 di bulan Ramadhan, malam jum’at pada tahun kedua hijriah, serta Nabi SAW pun sholat sepanjang malam, serta Allah menurunkan rasa kantuk terhadap pasukan muslimin untuk menenangkan hati mereka, serta Allah menurunkan hujan sebagai rahmat bagi orang mukmin serta adzab bagi orang kafir.
“ (ingatlah), ketika Allah menjadikan kalian mengantuk sebagai sebuahpenenteraman daripada-Nya, serta Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu serta menghapus dari kalian gangguan-gangguan syaitan serta untuk menguatkan hatimu serta memperteguh dengannya telapak kaki(mu)” – Al –Anfal: 11-
Ini merupakan malam yang mana paginya merupakan perang paling besar dalam sejarah umat ini.

* diterjemahkan secara bebas berasal muhadhoroh syaikh Nabil- hafidhohullah-
oleh Fuah Maharati

 

About uce

maju terus pantang mundur! aku mah gitu orangnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top